Entah apa yang langit pikirkan sekarang. Langit itu redup, diselimuti oleh awan tebal yang membuat matahari mulai hilang. Aku hanya bisa terdiam saat air-air jernih itu mulai turun darinya. Mungkin tak seorangpun tahu bagaimana rasanya, tapi hati itu layaknya badai yang entah kapan berhenti dan menghilang. Aku bahkan tak tau kapan pelangi itu akan datang? apakah hari ini? besok? atau mungkin tak ada. Sebuah pertanyaan kosong yang entah mengapa selalu berputar di pikiranku. Air-air itu mulai turun semakin deras, aku tak tahu sudah berapa banyakkah air yang membentuk awan gelap setebal ini. Membuat matahari mulai menghilang karenanya. Kehangatan itu tak lagi kudapatkan, kini mulai berganti dengan suasana sepi dan dingin. Apakah hal ini akan terus terjadi? Semua orang selalu menganggapku sebelah mata, tak ada yang bisa mengerti diriku. Aku hanyalah seorang anak yang mencoba bertahan menjalani kehidupan di dunia yang keras ini. Tiap hari aku selalu membawa gitar kecil kesayanganku dan dan bernyanyi di tepi jalan. Teriknya matahari dan derasnya hujan tetap ku lewati, demi sepeser rupiah untuk kehidupan
... baca selengkapnya di Langit itu Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Translate
Selasa, 14 Juni 2016
Langit itu
Saya lahir di Tolikara Papua pada tanggal, 2 Desember Tahun 1991. Saya orangnya sederhana saja banyak memiliki kekurangan, jadi saya sangat membutuhkan saran atau masukkan oleh siapa pun. Agar saya dapat belajar dari orang lain lagi, tentang apa saja sesuai talenta anda masing - masing. Silahkan membagaikan antara satu sama lain, agar menjadi berkat untuk orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar