Translate

Minggu, 31 Mei 2015

Praktikum Getaran pada bandul dan pegas oleh siswa SMA Genius

Sabtu, 30 Mei 2015

Tradisional Tolikara Papua

Tradisional Tolikara Papua

Lentera Papua Aviation in Wamena | Sekolah Sinar Baliem | 2014 | English

Peter Hisage salah satu penanji Papua putra Lembah Wamena

Kakak Imanuel Gurik putra Toliga Senior pioner Cahaya Toli Papua

Lintas Toliga

Objek Wisata Raja Ampat Papua

Jumat, 29 Mei 2015

Objek Wisata Raja Ampat Papua

A Week in Raja Ampat, West Papua, Indonesia

Fleeing times, Central Highlands of West Papua

Villa Cahaya Toli Center, Lintas Kali Kabur 2014

The Story of Jesus - Fuuta-Jaloo / Fuuta-Jalon / Fouta Djallon / Pular L...

Yesus Hanya Sejauh Doa

Yesus dan Murid MuridNya

Wanita yang disembuhkan Yesus

Minggu, 24 Mei 2015

Rusia Tawarkan Beasiswa Pendidikan bagi Anak Papua

Rusia Tawarkan Beasiswa Pendidikan bagi Anak Papua

Minggu, 17 Mei 2015

SKRIPSI Emiron Bembok






"PENERAPAN METODE DEMONSTRASI PADA MATERI GETARAN DAN GELOMBANG UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP  SISWA"
SKRIPSI
Diajukan Syarat untuk Memenuhi Gelar Sarjana Pendidikan Fisika  S1




Disusun oleh:
                                                                        
Emiron Bembok
NIM.10010210013
Dosen pembimbing Skripsi:
Murni, M.Pd.

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN SURYA 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Ilmu fisika merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang materi atau berbagai zat yang bisa meliputi sifat dari fisis, komposisi perubahan yang terjadi dan juga energi yang dihasilkan. Oleh sebab itulah, perkembangan yang terjadi pada ilmu pengetahuan dan juga teknologi akan berkembang pesat dan juga tidak lepas dari ilmu fisika yang merupakan salah satu ilmu yang dasar. Selain itu juga, konsep yang ada pada ilmu fisika akan membantu dalam memahami berbagai pengkajian dari ilmu lainnya, misalnya adalah ilmu kedokteran, ilmu kimia, teknologi industri, dan juga teknologi manufaktur serta yang lainnya.
Selama ini di daerah- daerah terpencil pendalaman di kampung- kampung  sekitar kota Tangerang, sekolah-sekolah yang ada belum pernah belajar dengan baik tentang pelajaran fisika ini dan dianggap pelajaran yang paling sulit bagi siswa. Fisika itu hanya untuk orang pintar saja, siswa  biasanya berpikir seperti itu. Hal ini ditemukan oleh Prof Yohanes Surya, Ph.D. Selain itu juga penulis dulu mengalami hal yang sama. Akan tetapi ketika penulis mengikuti belajar dengan guru yang berkualitas dan metode mengajarnya baik serta sangat menyenangkan .Ternyata fisika itu asyik dan menyenangkan asalkan siswa ada keiginan belajar dan di setiap sekolah harus ada guru yang berkualitas dengan metode mengajarnya yang baik.
Persoalan yang terjadi di daerah tersebut salah satunya dikarenakan metode yang digunakan oleh guru tidak  menyenangkan bagi siswa, para guru- guru hanya menggunakan metode ceramah saja . Oleh karena itu, siswa sering juga tidak hadir pada mata pelajaran tersebut, karena pelajarannya sulit dimengerti bagi siswa. Untuk mengatasinya dalam keadaan seperti ini, ada metode- metode yang lain lebih dalam dan menyenangkan seperti metode demonstrasi agar siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa masih banyak metode-metode yang lainnya.
Oleh karena itu penulis selaku peneliti melakukan penelitian metode demonstrasi untuk digunakan pada materi getaran dan gelombang. Agar meningkatkan pemahaman konsep siswa di sekolah Genius melalui penelitian ini, siswa diwajibkan harus bisa menerapkan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Harapan peneliti dengan kondisi yang disebut di atas dapat mewujudkan cita-cita siswa dengan meningkatkan belajarnya sehingga permasalahan yang terjadi bisa dapat diatasi.

B.  Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi getaran dan gelombang?

C. Batasan Masalah
Dari indentifikasi masalah diatas dapat dibatasi masalah yang akan diteliti.
Batasan - batasan masalah tersebut sebagai berikut.
1. Pembahasan Materi
Penelitian ini membahas tentang pokok materi getaran dan gelombang dan dibatasi pada sub pokok bahasan soal cerita pada materi getaran dan gelombang.
2. Penelitian difokuskan untuk mengukur peningkatan pemahaman konsep siswa pada materi getaran dan gelombang.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian dibatasi pada siswa sekolah Genius dan sudah dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015.
Dari pembatasan yang telah dilakukan di atas maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “Penerapan Metode Demonstrasi Pada Materi Getaran dan Gelombang untuk Meningkatkan  Pemahaman Konsep Siswa”.

D.  Tujuan Penelitian
Pembahasan tentang penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa melalui penerapan metode demonstrasi dengan materi getaran dan gelombang.

E.  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat. Berikut ini adalah manfaat dari penelitian ini.
1.       Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat menjadi memperbaiki kinerja, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme dalam memilih metode pengajaran yang baik.
2.       Bagi siswa, metode demonstrasi diharapkan pemahaman konsep siswa dapat meningkat.
3.       Bagi peneliti lainnya, penelitian ini menjadi referensi untuk dijadikan penelitian lanjutan.

F. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel pada penelitian ini adalah:
1. Metode demonstrasi adalah cara mengajar dengan cara memperagakan proses terjadinya suatu peristiwa atau benda denan penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh siswa secara nyata.
2. Pemahaman konsep adalah buah pemikiran seseorang yang sehingga melahirkan produk pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi 



BAB II
KAJIAN  PUSTAKA

A. Belajar dan Teori Belajar
Dalam proses pembelajaran, guru dituntut untuk mampu mengembangkan potensi- potensi siswa secara optimal. Upaya untuk mendorong terwujudnya perkembangan potensi siswa tersebut tentunya merupakan suatu proses panjang yang tidak dapat diukur  dalam periode tertentu. Agar aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi siswa secara komprehensip, maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan prinsip- prinsip yang benar, yang bertolak dari kebutuhan internal siswa untuk belajar mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip- prinsip belajar dalam proses pembelajaran, yaitu;
1.        Hal apapun yang dipelajari siswa  maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.
2.        Setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
3.        Seseorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement).
4.        Penguasaan secara penuh dari setiap langkah- langkah pembelajaran, memungkinkan siswa  belajar, secara lebih berarti.
5.        Apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka  ia lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingatkan lebih baik.
Prinsip belajar menunjuk kepada hal- hal penting yang harus dilakukan guru agar terjadi proses belajar siswa sehingga proses pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Prinsip - prinsip belajar dalam proses pembelajaran. Bagi guru, kemampuan menerapkan prinsip- prinsip belajar juga memberikan arah tentang apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh guru agar para siswa dapat berperan aktif di dalam proses pembelajaran akan dapat membantu terwujudnya tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam perencanaan pembelajaran. Sementara bagi siswa prinsip- prinsip pembelajaran akan membantu tercapainya hasil belajar yang diharapkan (Aunurrahman, 2013: 113-114).

B. Model Pembelajaran Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan salah satu metode yang cukup efektif karena membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demontrasi merupakan metode penyanjian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan.
Metode demonstrasi adalah petunjuk tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh siswa secara nyata (Sagala, 2005: 197).
Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memperhatikan, tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
1.                        Langkah- Langkah Menggunakan Metode Demonstrasi
a)   Tahap Persiapan
l  Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan :
l  Merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir,
l  Menyiapkan garis besar langkah- langkah demonstrasi yang akan dilakukan; dan
l  Melakukan uji coba demonstrasi.

b)   Tahap Pelaksanaan
1)    Langkah Pembukaan Metode  Demonstrasi
         Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
l  Mengatur tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan;
l  Mengemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa;
l  Menemukakan tugas- tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2)     Langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Mulailah demonstrasi dengan kegiatan - kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan - pertanyaan yang mengandung teka- teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memerhatikan demonstrasi.
Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
3) .  Langkah Mengakhiri Metode Demontrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas- tugas tertentu yang kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama  tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.
Sebagai suatu metode  pembelajaran, demonstrasi memiliki beberapa kelebihan di antaranya sebagai berikut.
a)        Melalui metode demonstrasi, terjadinya verbalisme akan dapat dihindari karena siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
b)        Proses pembelajaran akan lebih menarik karena siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
c)        Dengan cara mengamati secara langsung, siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian, siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Selain beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sebagai berikut.
a)        Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang karena tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu sehingga dapat memakan waktu yang banyak;
b)       Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan- bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiyaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah; yang khususnya sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu, demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa (Majid, 2013: 197).

C. Pengertian Getaran
C. 
Getaran adalah gerak bolak balik yang terjadi secara teratur di sekitar titik setimbangnya. Karena terjadi secara teratur, getaran sering disebut gerak berkala atau gerak periodik. Beberapa contoh dari gerak periodik atau getaran adalah sebagai berikut.
l  Gerak turun naiknya batu yang digantung pada sebuah pegas setelah di lepaskan.
l  Gerak ayunan sebuah bola besi yang diayung dengan tali dan dilepaskan, kemudian di hitung waktu yang berputar selama getaran tersebut bergetar.
l  Gerak turun naiknya ujung sebilah penggaris plastik yang salah atau ujungnya dijepit, kemudian dilepaskan dan menghitung waktu yang berputar selama satu getaran.
l  Gerak turun naiknya air dalam pipa

                                     


Gambar 2.1 Contoh  Getaran

Getaran banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari gitar yang dipetik menghasilkan musik yang merdu getaran bandul dapat dimanfaatkan sebagai penunjuk waktu; dan getaran jaring laba- laba dapat digunakan untuk mencari mangsa; dan getaran pegas pada mobil melintasi jalan.
Tidak semua getaran bermanfaat. Getaran mesin- mesin kadang- kadang tidak menyenangkan, karena suaranya sangat mengganggu kenyamanan. Getaran mesin mobil dapat mengurangi kenyamanan dalam berkendaraan. Itulah sebabnya banyak teknologi dikembangkan untuk meredam getaran- getaran yang merugikan.


Gambar 2.2 Bandul Sederhana


1. Periode dan Frekuensi         
Pada Gambar 2.2 bandul mula- mula berada dalam keadaan seimbang di titik B (titik B dinamakan titik keseimbangan). Kemudian bandul diberi simpangan hingga mencapai titik A dan dilepas. Bandul akan berayun ke titik C melalui titik B dan kembali ke titik A melalui lintasan yang sama. Jika tidak ada udara, bandul akan bergerak bolak- balik tanpa henti. Getaran bandul dari titik A ke titik A lagi melalui lintasan ABCBA, dinamakan 1 getaran atau 1 ayunan.
Lamanya waktu yang diperlukan untuk melakukan 1 getaran atau untuk menempuh lintasan ABCBA dinamakan periode, T. Satuan periode adalah detik atau sekon yang disingkat S.
Besaran lain yang digunakan untuk melukiskan getaran adalah frekuensi yang diberi simbol f atau v ( baca: nu). Frekuensi menyatakan banyaknya getaran tiap detik. Satuan frekuensi dalam SI (Sistem Internasional) adalah herz, disingkat Hz.
            1 hertz = 1 getaran/ detik
Frekuensi dan periode getaran dapat dihubungkan dengan rumus: T=1/f
Menurut definisi, waktu untuk melakukan 1 ayunan dinamakan periode, T. Dengan demikian T harus sama dengan 1/f.
D. P
Pernahkah Anda perhatikan apa yang terjadi ketika sebutir batu kecil dijatuhkan pada permukaan air kolam yang tenang? Batu akan menimbulkan suatu gangguan pada permukaan air! Gangguan ini kemudian dirambatkan oleh air ke tepi kolam.
Selama dirambatkan, gangguan tidak membawa atau menyeret materi yang terletak pada permukaan air yang dilewati gangguan hanya bergerak naik- turun, tanpa ikut terseret gangguan. Perambatan gangguan ini dinamakan gelombang. Karena gangguan ini membawa energi maka gelombang didefinisikan sebagai perambatan energi dari satu tempat ke tempat lain tanpa menyeret materi yang dilewatnya.
Di samping gelombang air, beberapa jenis gelombang yang ditemui orang antara lain: gelombang tali, gelombang gempa, gelombang bunyi, gelombang kejut yang disebabkan oleh pesawat supersonik, gelombang radio, gelombang mikro (microwave) dan gelombang cahaya.
Gelombang air, gelombang bunyi, gelombang tali, dan gelombang gempa merambat melalui suatu medium. Mediumnya dapat berupa zat padat, zat cair atau gas. Gelombang, yang seperti ini disebut gelombang mekanik. Gelombang  cahaya, gelombang radio dan gelombang mikro tidak membutuhkan medium untuk perambatannya. Gelombang yang seperti ini disebut gelombang elektromaknetik. (Surya, Yohanes 2009: 19).

a)        Gelombang Transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getarnya tegak lurus dengan arah rambatnya. Gambar gelombang transversal dapat dilihat seperti pada



                                        
Gambar 2.3. Bentuk Gelombang Transversal

Istilah- istilah dalam Gelombang Transversal
l  Amplitudo gelombang (A), adalah tinggi puncak gelombang.
l  Panjang gelombang, λ didefinisikan sebagai jarak terdekat antara dua puncak gelombang. Panjang gelombang juga merupakan jarak terdekat antara  dua titik yang identik (atau sefase). Panjang gelombang merupakan panjang suatu gelombang penuh.
l  Frekuensi gelombang, f didefinisikan sebagai banyaknya gelombang yang melewati suatu titik tiap detik.
l  Periode gelombang, T didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh satu titik untuk dilewati dua puncak gelombang ( atau 1 gelombang penuh) berturut- turut. Periode dirumuskan sebgai T= 1/f.
l  Kecepatan gelombang atau cepat rambat gelombang, Ê‹, merupakan kecepatan lewatnya dua puncak gelombang berturut- turut pada suatu titik tertentu. Karena jarak dua puncak gelombang didefinisikan sebagai λ dan waktu untuk munculnya dua puncak gelombang berturut- turut adalah T maka menurut rumus gerak, Ê‹ = s/t = λ/T. Karena T = 1/f maka rumus kecepatan gelombang dapat juga ditulis sebagai Ê‹ = λ.f.

b)       Gelombang Longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang sejajar dengan arah rambatannya. Gelombang longitudinal terdiri dari rapatan dan regangan. Rapatan adalah daerah di mana gulungan pegas pada itu lebih rapat dibandingkan  jarak antara gulungan pada keadaan normal, sedangkan Renggangan adalah daerah yang jarak antara gulungan pegasnya relatif lebih renggang.  Bentuk gelombang longitudinal dapat dilihat seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Gelombang Longitudinal

Pada gelombang longitudinal yang dimaksud panjang gelombang, λ adalah jarak terdekat antara dua pusat renggangan. Sedangkan frekuensi gelombang, f, sama seperti gelombang transversal, didefinisikan sebagai banyaknya gelombang yang melewati suatu titik tiap detik.
Rumus cepat rambat gelombang longitudinal ʋ, sama dengan rumus kecepatan gelombang transversal, yaitu ʋ = λ.f.
Catatan:
Perlu diperhatikan bahwa cepat rambat gelombang tidak sama dengan kecepatan gerakan partikel - partikel yang dilewati gelombang itu. Kecepatan gerakan partikel yang sering disebut dengan cepat getar gelombang berhubungan dengan kecepatan partikel bergetar (bergerak tegak lurus arah rambat pada kasus gelombang transversal) (Surya, Yohanes 2009: 21).  

E. Pemahaman Konsep  Siswa
Kita dapat membayangkan bila seseorang tidak mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan peristiwa, objek, dan kegiatan yang di jumpainya dalam kehidupan sehari- hari. Karena tidak ada dua stimulus yang sama benar, orang itu akan terpaksa memberikan respons yang berbeda terhadap setiap simulus yang diterimanya. Hal ini merupakan suatu beban yang berat bagi memori. Terlibat dalam situasi demikian merupakan hal yang kompleks.
Untunglah manusia dapat mengategorisasikan berbagai stimulus yang mereka hadapi. Walaupun tidak ada dua jeruk yang sama benar, kita dapat mengelompokkan jeruk- jeruk itu dan mengadakan reaksi yang serupa terhadap semua anggota dari kelas jeruk. Kita dapat menentukan sifat kelas jeruk, memberi nama kategori itu, dan mengadakan respons yang berbeda terhadap semua anggota kelas itu dengan cara yang sama - dengan memakannya.  Konsep merupakan kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep menyediakan skema teroganisasi untuk untuk mengasimilasikan stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori- kategori.
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan. Konsep merupakan batu pembangun berpikir. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip dan generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan- aturan yang relevan dan aturan- aturan ini didasarkan pada konsep- konsep yang diperolehnya (Dahar,2011:62).
 Belajar dan pembelajaran konsep diperoleh dengan dua cara , yaitu pembentukan konsep dan asimilasi konsep. Pembentukan konsep terutama merupakan bentuk perolehan konsep sebelum anak- anak masuk sekolah. Pembentukan konsep dapat disamakan dengan belajar konsep konkret menurut Gagne (1977). Asimilasi konsep merupakan cara utama untuk  memperoleh konsep selama sesudah sekolah.
a.  Pembentukan Konsep siswa
Banyak konsep yang sudah kita peroleh berkembang sejak kita kecil. Akan tetapi, konsep itu telah mengalami modifikasi atau perubahan karena pengalaman- pengalaman kita. Waktu anak- anak mulai masuk sekolah, mereka sudah memperoleh konsep- konsep seperti: meja, kursi, atas, berlari, dan banyak lagi yang lain. Konsep- konsep ini terutama diperoleh melalui pembentukan konsep.
Pembentukan konsep merupakan proses induktif. Bila anak dihadapkan pada stimulus lingkungan, ia mengbstraksi sifat atau atribut tertentu yang belajar penemuan, paling sedikit dalam bentuk primitif. Pembentukan konsep juga ditunjukkan oleh orang- orang yang lebih tua dalam situasi kehidupan nyata dan laboratorium, tetapi dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi.
Pembentukan konsep mengikuti pola contoh/ aturan pola “egrule” (eg = examples = contoh). Anak yang belajar dihadapkan pada sejumlah contoh dan mencontoh konsep tertentu. Melalui proses diskriminasi dan abstaksi,  ia menetapkan suatu aturan yang menentukan kriteria untuk konsep itu. ( Dahar, 2011: 64 ).
b. Pendekatan Konsep Siswa
Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi, dan berfikir abstrak. Konsep dapat mengalami perubahan disesuaikan dengan fakta atau pengetahuan baru, sedangkan kegunaan konsep adalah menjelaskan dan meramalkan. (Sagala,2003:71).
Walaupun kedua bentuk belajar konsep ini efektif, pembentukan konsep lebih memakan waktu daripada asimilasi. Dengan mempertimbangkan bahwa begitu banyak konsep yang harus dipelajari siswa selama sekolah, pengunaan berlebihan metode penemuan hendaknya dibatasi. Mereka menganjur belajar penemuan yakin bahwa konsep yang dipelajari secara eg-rute lebih bermakna bagi para siswa daripada konsep yang dipelajari dengan rute- eg, tetapi ada pula ahli teori belajar yang tidak sependapat dengan ini, antara lain Ausubel. Mengenai belajar bermakna ini perlu ada pembahasan tersendiri (Dahar, 2011: 65).
2.6 Hipotesis Penelitian 
Berdasarkan teori pembelajaran dan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian sebelumnya, peneliti dapat menyusun hipotesis penelitian adalah terdapat peningkatan pemahaman konsep siswa pada materi getaran dan gelombang melalui metode demonstrasi.



                                                                        BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode dan Desain
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah poor experimental dengan desain one group pre-post desain pada penelitian ini penelitian dilakukan pada 1 kelas, yang diawali dengan pemberian pretest, kemudian diberiakn perlakuan dengan metode demonstrasi, dan selanjutnya diakhiri dengan posttest
                      Tabel 3.1 Desain Penelitian
Pre test
Perlakuan
Post test
O1
X
O2

B. Populasi  dan Sampel
Dalam penelitian, populasi ini dibedakan antara populasi secara umum dengan populasi target atau “target population”. Populasi target adaalah populasi  yang menjadi sasaran keberlakukan kesimpulan penelitian kita. Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Suatu populasi dengan jumlah individu tertentu dinamakan variabel. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Genius.
Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel dan perhitungan besarnya sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Sampel yang secara nyata akan diteliti harus peresentatif dalam arti mewakili populasi baik dalam karakteristik maupun jumlahnya.
Sampel adalah berkenaan dengan pengukuran keadaan ataupun atribut dari entitas tertentu, seperti keluarga, areal, produksi, usaha, tani, guru, penyakit, dan sebagainya. Atribut serta objek yang menjadi tujuan penelitian disebut sifat atau ciri (characteristic). Sampel pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik sampel jenuh (sensus), karena sampel pada penelitian ini merupakan jumlah keseluruhan populasi dari siswa Sekolah Genius. (Sukmadinata, 250-252:2005).

C. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini adalah.
1). Observasi di sekolah genius  (melalui kegiatan PPL)
2). Melakukan study literatur (membaca teori tentang metode demonstrasi)
3) Menyusun soal pos test dan pre test
4). Menyusun RPP
5). Melakukan validasi soal kepada asisten dosen
6). Pemberian pretest kepada siswa
7). Mengajar  menggunakan metode demonstrasi
8). Pemberian posttest kepada siswa
9). Menganalisis Data
10). Menyusun laporan.

D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini ada menggunakan teknik tes tertulis. Tes ini dibuat dalam bentuk soal getaran dan gelombang yang berisi pilihan ganda dan isian berjumlah 30 nomor untuk satu siswa. Mengerjakannya, hanya dalam waktu 20 menit.
Sebelum diberikan kepada siswa. Tes divalidasi terlebih dahulu oleh: Validator  Bapak Amak Asofi, S.Pd. Setelah itu dilakukan perbaikan sesuai saran dari validator.

E. Teknik Analisis Data
     Data pada penelitian ini dianalisis 2 kali yaitu dengan:
a).  Analisis Deskriptif
Analisis dskriptif yaitu analisis yang digunakan untuk menggambarkan nilai  dari hasil pretest dan posttest.
b).  Analisis lanjutan     
Analisis lanjutan ini digunakan untuk mencapai peningkatan pemahaman konsep siswa. Analisis lanjutan ini menggunakan persamaan N. Gain absolute menyatakan bahwa siswa yang memiliki gain absolute sama belum tentu memiliki  gain hasil belajar yang sama. ( Hake 2002)
Gain ternomalisasi (N-gain) diformulasikan dalam bentuk persamaan seperti di bawah ini:
N-Gain = skor pos test -  skor pre test / skor ideal - skor pre test
Kategori gain ternomalisasi disajikan pada tabel di bawah ini.
                  Tabel 3.2  Interpretasi Gain Ternomalisasi yang dimodifikasi
Nilai gain ternomalisasi
Interpretasi
-1,00 ≤ gain > 0,00
Terjadi penurunan
N gain = 0,00
Tidak terjadi peningkatan
0,00 < N gain>  0,30
Rendah
0,30 ≤N gain > 0,70
Sedang
0,70 ≤ N gain ≤ 1,00
Tinggi

                           (Rostina Sundayana, 2014 :151)
Hasil pada tabel diatas akan ditentukan ketika nilai- nilai setiap siswa diola menggunakan rumus gain. Kemudian akan menggetahui sebab dan akibat menggapa siswa- siswi bisa dapatkan nilai seperti begitu? Setelah itu, peneliti akan mencari jalan keluar dari sebab akibat yang dialami oleh para siswa- siswi tersebut. Agar menuju peningkatan pemahaman konsep siswa yang lebih baik lagi. 



BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Hasil  Penelitian
1. Analisis Deskriptif
Penelitian ini dilakukan di SMA Genius yang di awali dengan memberikan soal pretest untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi getaran dan gelombang, kemudian diakhiri dengan pemberian soal posttest untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa. Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti menyusun RPP dan soal-soal, kemudian pertama peneliti menerapkan metode demonstrasi pada materi getaran dan gelombang. Setelah siswa-siswi mengikuti penerapan penelitian, peneliti memberikan posttest kepada siswa untuk mngetahui peningkatan pemahaman konsep siswa. Hasil  pretest dan posttest dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1.Hasil Pretest dan Posttest
Kriteria
Pretest
Posttest
Rata-Rata
74,69
75,63
Nilai Tertinggi
95
95
Nilai Terendah
40
50
Simpangan Baku
16,28
12,63
Varians
264,90
159,58

Hasil N- gain yang diperoleh setiap siswa pada Tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest dapatkan 74,69 kemudian mengalami peningkatan sebesar 75,63. Kemudian nilai tertinggi yang diraih besarnya sama yaitu sebesar 95. Di antara mereka ada juga yang nilainya masih rendah yaitu 40 nilai pretest, kemudian sedikit dapat meningkat nilai postyest-nya menjadi 50. Simpangan baku hasil keseluruhannya 16,28 kemudian dapat menurung sebesar12,63262971 dan nilai varians sebesar 264,90 menjadi berubah  159,58.

2. Analisis  Lanjutan
            Berdasarkan hasil pengujian menggunakan N-Gain ternyata hanya sedikit yang mengalami peningkatan pemahaman konsep sangat rendah yaitu sebesar 0.037. Setiap siswa memiliki pemahaman konsep yang berbeda ada yang memiliki gain yang rendah, ada yang sedang, dan ada yang tinggi telah terbukti sebagai berikut.
Hasil analisis menggunakan N-Gain diperoleh bahwa:
a. Siswa  dengan peningkatan rendah (N- Gain < 0,30) berjumlah 9 orang
b. Siswa  dengan peningkatan sedang( 0,30 N- Gain ≥ 0,70 ) berjumlah 3 orang
c. Siswa  dengan peningkatan tingggi (0,70 < N- Gain) berjumlah 3 orang

B.  Pembahasan
Berdasarkan analisis data, yang diperoleh hasil bahwa ada peningkatan pemahaman konsep siswa dari nilai pretest dan posttest, walaupun peningkatannya sangat kecil, yaitu 0,037. Berdasarkan analisis data menggunakan N-Gain, peningkatan pemahaman konsep setiap siswa masih rendah yaitu sekitar 9 orang, sedangkan yang sedang ada 4 orang, dan yang mengalami peningkatan tinggi ada 3 orang.
Hal ini disebabkan karena ketika penelitian berlangsung, siswa di Sekolah Genius sebenarnya tidak ada anak yang kemampuannya rendah, yang ada hanya mereka semua sama, tetapi peneliti menilai ada siswa yang bekerja dengan serius dan teliti sehingga hasilnya baik. Akan tetapi ada yang tidak serius mengerjakan soal pretest atau posttest sehingga hasilnya juga belum memuaskan yang ditargetkan oleh peneliti. Penyebab lainnya karena siswa tidak memperhatikan ketika peneliti menjelaskan materi sehingga nilai siswa tidak meningkat. Akan tetapi ada siswa yang memperhatikan penjelasan peneliti dengan baik, nilainya pasti meningkat. Oleh karena itu, nilainya tidak memuaskan, dan di antara mereka ada mengerjakan dengan serius dan teliti nilainya baik.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman konsep siswa pada materi getaran dan gelombang melalui metode demonstrasi sebesar 0,037, dengan rincian siswa  dengan peningkatan rendah (N- Gain < 0,30) berjumlah 9 orang, siswa  dengan peningkatan sedang( 0,30 N- Gain ≥ 0,70 ) berjumlah 3 orang, siswa  dengan peningkatan tingggi (0,70 < N- Gain) berjumlah 3 orang.

B. Saran
Demikian berdasarkan penelitian tersebut, maka peneliti dapat disarankan:
1. Pembelajaran menggunakan metode demonstrasi sebaiknya dilakukan dengan pembimbingan yang baik oleh guru, sehingga seluruh siswa memperhatikan kegiatan demonstrasi
2. Alat yang digunakan pada kegiatan demontrasi sebaiknya bisa memberikan gambaran yang konkret tentang fenomena/ gejala fisika yang terjad.



DAFTAR PUSTAKA

 Aunurrahman. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta

                    Dahar. 2011. Teori- Teori Belajar & Pembelajaran. Ciracas, Jakarta 13740. PT Gelora Aksara Prama.

Majid.  2013. Strategi Pembelajaran. Bandung 40252 : PT Remaja Rosdakaya

              Nazir.  2014.  Metode Penelitian. Warung Nangka, Ciawi- Bogor 16720: Penerbit Ghalia 

Indonesia
Surya, Yohanes. 2009. Getaran dan Gelombang. Tangerang : PT     Kandel

Sukmadinata. 2005. Metode penelitian Pendidikan. Bandung, 40252. PT
Remaja Rosdakarya

Rostina Sundayana, 2014. Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung. PT
Alfabeta

                      Syaiful Sagala, 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: PT
                                                                      Alfabeta